Tampilkan postingan dengan label ATTITUDE MOKLET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ATTITUDE MOKLET. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2011

Sikap Anak



PENEKANAN :
taukah kamu tentang attitude baik tentang KEJUJURAN ?
sesungguhnya, orang yang PENDUSTA pun masih mencari atau lebih memilih orang yang paling JUJUR untuk mendampinginya.

ATTITUDE IS EVERYTHING
Why ?
attitude is everthing mempunyai arti bahwa sikap orang dan kelakuan seseorang adalah segalanya.
Mungkin satu satunya hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan sikap kita.
situasi tertentu bisa menghancurkan kita, atau kita bisa mempecundangi diri sendiri dengan terus merasa gentar.
kita bisa melihat persoalan kita sebagai kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri, atau kita bisa menganggap bahwa segala persoalan,
seremeh apa pun, adalah jurang keputusan dan itu semua sebagian besar akan terwujud. kita memikirkan apa yang ingin kita pikirkan. <span class="fullpost">
mengapa tidak melawan kenegatifan dengan sikap positif?
apa yang hilang dari kita????
melakukan perlawanan sepiritual akan menciptakan satu kesempatan untuk menentukan atau menemukan berbagai kemungkinan.

Minggu, 04 Desember 2011

Sikap

Pengertian
Perilaku manusia juga dilatar belakangi oleh sikap. Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal.

Sikap memiliki beberapa pengertian dan definisi sebagai berikut :
• Sikap adalah predisposisi mental untuk melakukan suatu tindakan (Kimmball Young (1945)
• Sikap adalah keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungan dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian tertentu (Sherif & sherif 1956)
• Sikap adalah predidposisi yang dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam tatacara tertentu dan berkenaan dengan objek tertentu (Fishbein & Ajzen 1975)
• Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan.

Komponen sikap
Sikap merupakan hubungan dari berbagai komponen yang terdiri atas :
a. Komponen kognitif : yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan dan informasi yang dimilki seseorang tentang objek sikapnya atau komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan atau bagaimana mempersepsi objek
b. Komponen afektif : komponen yang bersifat evaluatif yang berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang
c. Komponen konatif : kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan objek sikapnya atau komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek

Ciri-ciri sikap
Sikap memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Sikap tidak dibawa sejak lahir
Berarti manusia dilahirkan tidak membawa sikap tertentu pada suatu objek. Oleh karenanya maka sikap terbentuk selama perkembangan individu yang bersangkutan. Karena terbentuk selama perkembangan maka sikap dapat berubah, dapat dibentuk dan dipelajari. Namun kecenderungannya sikap bersifat tetap.
b. Sikap selalu berhubungan dengan objek
Sikap terbentuk karena hubungan dengan objek-objek tertentu, melalui persepsi terhadap objek tersebut.
c. Sikap dapat tertuju pada satu objek dan sekumpulan objek
Bila seseorang memiliki sikap negatif pada satu orang maaka ia akan menunjukkan sikap yang negatif pada kelompok orang tersebut.
d. Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar
Jika sikap sudah menjadi nilai dalam kehidupan seseorang maka akan berlangsung lama bertahan, tetapi jika sikap belum mendalam dalam diri seseorang maka sikap relaatif dapat berubah.
e. Sikap mengandung perasaan atau motivasi
Sikap terhaadap sesuaatu akan diikuti oleh perasaan tertentu baik positif maupun negatif. Sikap juga mengandung motivasi atau daya dorong untuk berperilaku.

Jumat, 25 November 2011

Melatih Jujur

Tidak semua kita dapat selalu bersikap jujur, termasuk jujur pada diri sendiri. Sepertinya, dengan berbohong, posisi diri sudah aman. Padahal itu menunjukkan gejala-gejala ketakutan. Takut dipermalukan, takut keinginannya nanti tidak kesampaian.     Kejujuran berkaitan erat dengan keberanian. Orang bisa jujur, karena berani. Orang berani, belum tentu jujur. Lho kok gitu? Kasih contoh aja, ada dua orang yang ngembat uang temannya sendiri. Pelaku yang satu merasa menyesal, langsung dia temui korbannya. Ngaku kalalu dia ngambil dan lantas mengembalikan. Berani. Satunya lagi, tidak mau tanggung jawab. Tidak  mau ngaku, padahal saksi di depan mata. Malah balik marahin. Enak aja nuduh! Ngapain dia bawa-bawa nama saya. Urus aja uangmu yang hilang sama dia. Berani, tapi ga jujur.
       Orang akan lebih respek bila kita jujur. Benci bilang benci. Suka ya bilang aja suka. Tidak munafik. Tanpa tedheng aling-aling. Aku nulis ini, jangan lantas bilang teman kamu jelek lho! Walau kenyataannya emang jelek. Gunakan bahasa yang tidak nyakitin. Misalnya, rambut kamu bagus, tapi akan lebih bagus kalo disisir. Jujur juga kan?
       Sesuatu yang sebenarnya ingin kita nyatakan, tapi sengaja ditutup-tutupi, cepat atau lambat bisa aja terkuak. Entah kalo bukan kita yang ngaku, mulut orang lain mungkin yang ngasih tahu. Terus, gimana biar kita tahu sejauh mana tingkat kejujuran kita? Ada juga yang namanya test kejujuran. Contohnya :
        Seorang ibu ingin tahu anaknya jujur apa tidak. Dia bilang ke anak tersebut, "Udah minum susu belum? Kalau adek udah minum, ibu mau kasih hadiah. Besok diajak jalan-jalan". Sang ibu tahu kalau anaknya itu susah banget minum susu. Dengar gitu adek cepat menjawab, "Udah Bu, bener ya Bu, besok jalan-jalan, asyiik". Ibu itu langsung kecut mukanya. Anaknya belum mampu berkata jujur. Sudah dua hari ini susu habis.
     Banyak cara lain buat melatih kejujuran kita. Minimal kita punya laah.. orang yang bisa kita percaya dalam hidup ini. Entah orang tua, saudara, temen dll. Mereka banyak membantu. jangan malu-malu ungkapkan masalah, toh landasannya saling percaya. Masalahmu bisa jadi rahasia bersama, hingga benar-benar dapat diselesaikan.
      Kalau kitanya tidak jujur, orang lain mungkin nunggu-nunggu. Meraba-raba apa yang ada dalam benak kita. Coba aja jujur. Kitanya plong, orang lain jadi ngerti kondisi kita. Bahkan mungkin bisa nerima kita apa adanya.

Selasa, 11 Oktober 2011

Pembentukan Sikap

Mengapa orang Jawa memiliki sikap ”kemayu, lembut, sopan dll” dan bertingkah laku yang sering kali berbeda dengan sikapnya ? Bagaimana proses pembentukan sikap itu sendiri ? Para Psikolog Sosial menyakini bahwa sikap adalah hasil dari proses belajar. Sebagian besar psikolog sosial memfokuskan perhatiannya pada bagaimana pembentukan sikap. Namun demikian hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sikap dapat dipengaruhi oleh orang tua kepada anaknya yakni bersifat genetik (Baron, 2003).
Proses pembentukan sikap menurut Baron terjadi dengan sistem adopsi dari orang lain yakni melalui satu proses yang disebut proses pembelajaran sosial. Dalam proses inipun dilalui dalam beberapa proses lainnya antara lain :

1. Classical conditioning adalah Bentuk dasar dari pembelajaran di mana satu stimulus, yang awalnya netral menjadi memiliki kapasitas untuk membangkitkan reaksi melalui rangsangan yang berulang kali dengan stimulus lain. Dengan kata lain satu stimulus menjadi sebuah tanda bagi kehadiran stimulus lainnya (Robert A Baron, 2003). Dalam proses ini seorang anak yang awalnya biasa saja menyaksikan Ibunya bersikap marah terhadap suku bangsa tertentu namun karena sikap sang Ibu tersebut dilakukan berulang kali maka terjadilah proses classical conditioning pada diri sang anak. Sang anak yang awalnya netral menjadi ter-stimulasi untuk bersikap negatif seperti yang dilakukan Ibunya. Dalam hal ini anak memperlajari bagaimana bersikap dari orang terdekatnya.

2. Instrumental conditioning adalah Bentuk dasar dari pembelajaran di mana respon yang menimbulkan hasil positif atau mengurangi hasil negarif yang diperkuat (Robert A Baron, 2003). Dalam proses ini kita bisa mengambil contoh anak yang tidak memahami apa-apa tentang partai politik misalnnya maka akan bersikap sama dengan orang tuanya. Dalam perspektif behavior, tingkah laku sang anak adalah buah dari reinforcement. Dengan memberikan senyuman, pujian atau hadiah kepada anak yang telah melakukan dukungan kepada salah satu partai politik (padahal ia baru berusia 3 tahun) seperti yang menjadi dambaan orang tuanya maka akan membentuk sikap anak sama dengan sikap orang tuanya tersebut. Proses adopsi sikap seperti ini dinamakan instrumental condioning.

3. Pembelajaran melalui observasi adalah Salah satu bentuk belajar di mana individu mempelajari tingkah laku atau pemikiran baru melalui observasi terhadap orang lain (Robert A Baron, 2003). Proses ini terjadi hanya dengan memperhatikan tingkah laku orang lain. Contohnya seorang anak yang melihat ayahnya memukul Ibunya maka sikap dan perbuatan tersebut akan menurun pada anaknya meski sang ayah melarang anaknya melakukan kekerasan kepada siapapun. Dalam hal ini sang anak seringkali belajar apa yang dilakukan orang tuanya, bukan apa yang dikatakan oleh orang tuanya.

4. Perbandingan Sosial adalah Proses di mana kita membandingkan diri kita dengan orang lain untuk menentukan apakah pandangan kita terhadap kenyataan sosial benar atau salah (Robert A Baron, 2003). Dalam proses ini kita bisa melihat bagaimana anggota masyarakat menentukan siapa pemimpinnya dalam satu komunitas di pedesaan cenderung sama karena mereka memiliki kecenderungan untuk memperbandingkan diri mereka masing-masing dengan orang lain untuk menentikan apakah pandangan dan sikapnya terhadap siapa yang akan dipilihnya benar atau salah (Festinger, 1954). Dalam masyarakat desa berbeda pandangan dan sikap dengan lingkungannya akan anggap aneh dan tidak lazim dan bahkan mendapat resiko dikucilkan. Dalam banyak kasus, sikap terbentuk dari informasi sosial yang berasal dari orang lain, dan keinginan kita sendiri untuk menjadi serupa dengan orang yang kita sukai atau hormati.

Pertanyaannya adalah apakah setiap sikap kita akan menjelma menjadi perilaku kita ? Ternyata jawabnya tidak demikian. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang dikenal dengan budaya ketimuran, banyak dari sikap kita tidak menjelma menjadi perilaku kita. Seperti misalnya sikap marah kita pada pimpinan di kantor karena sistem yang kita anggap tidak adil, tidak selamanya kita apresiasikan dalam perilaku marah. Atau contoh yang paling dekat adalah sikap kita mencintai makanan berlemak dan berkoresterol tinggi tidak serta merta membuat kita membabi buta ketika berhadapan dengan makanan tersebut. Argumennya beragam mulai dari ketakutan kita mengidap penyakit diabetes, jantung maupun untuk menjaga agar tubuh kita tetap ideal dan tidak mengalami kegemukan.

Minggu, 02 Oktober 2011

Macam Sikap

Apa yang dia lihat dan didengar oleh anak.maka itulah yang akan dia tiru, terutama anak yang berumur di bawah 6 tahun (usia pra sekolah) sangat mudah meniru apa yang ada di sekitar nya. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa “ Anak-anak adalah peniru yang baik “. Ungkapan ini harus diperhatikan oleh para orangtua.
Seringkali kali kita menemukan anak-anak menirukan perkataan maupun prilaku yang kurang baik/sopan, hingga menyakiti orang disekitarnya. Kita sebagai orangtua pasti merasa kecewa dan sedih dengan sikap anak tersebut. Timbul pertanyaan ‘ kenapa anak ini ?”
Menurut Titi P.Natalia, Staf pengajar Prog.Magister Psikologi Univ.Tarumanegara Jakarta, ketika kita mendapatkan sang anak mengatakan atau berprilaku yang kurang baik sebaiknya orangtua jangan langsung menganggap bahwa anak tersebut “anak nakal dan berprilaku negative “. Ada baiknya tanyakan alasannya dan beri pemahaman atas perbuatan anak tersebut.
Terkadang bila kita cermati sebenarnya anak tersebut tidak paham dengan apa yang dia ucapkan dan tidak bermaksud seperti itu. Apa yang dia ucapkan bisa jadi karena meniru oranglain, teman-temannya, tontonan di TV dan banyak kemungkinan media-media di sekitarnya yang bisa ditiru oleh anak.
Jika memang demikian, jangan jauhkan anak dari pengaruh buruk lingkungan tersebut. Lebih baik bekali anak dengan pemahaman dan logika berpikir yang baik, sehingga walaupun anak masih berinteraksi dengan lingkungan tersebut ia tidak akan begitu saja mengikutinya, justru menjadikan anak akan terbiasa belajar berpikir mengambil keputusan.
Walau bagaimana pun kita tidak bisa mengubah begitu saja lingkungan di sekitar anak. Dimana pun anak bergaul akan selalu ada anak-anak yang baik dan kurang baik.
Untuk menanamkan prilaku baik pada anak tentulah di mulai dari lingkungan dekatnya dulu, yaitu keluarga. Hubungan ibu dan ayah yang baik, komunikasi antara orangtua – anak yang baik, pendidikan moril dan agama yang cukup merupakan modal awal bagi anak untuk memiliki prilaku dan perkataan yang baik. Dalam diri orangtua tanamkan bahwa anak masih dalam proses belajar dan adaptasi, bila anak melakukan kesalahan masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Jangan langsung menghardik atau memarahinya, justru dengan cara seperti itu akan membuat anak menutup diri dan mengulangnya di lain hari.
Menurut Titi, bila ada kejadian yang tidak baik yang dilakukan oleh anak sebaiknya orangtua memanggil dan bertanya dengan nada pelan. Selanjutnya beri dia klarifikasi dan pengertian tentang apa yang baru saja terjadi baik buruknya dan coba ingatkan lagi untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan pernah bosan untuk mengingatkan.
Menanamkan prilaku positif juga bisa dilakukan lewat alam bawah sadar anak, yaitu pada saat anak tidur. Bisikan kalimat-kalimat yang sifatnya memuji dan bisikan harapan-harapan orangtua pada anak tersebut. Misalnya ‘ Adik anak pintar, pasti bisa bicara yang baik, ya !’ dsb.
Jika sudah terekam dengan baik di alam bawah sadarnya, ia akan mengubah prilakunya secara bertahap kea rah yang lebih baik lagi. Alam bawah sadar memang lebih banyak jadi pengontrol prilaku sehari-hari.
Jika orangtua memiliki anak yang suka membantah saat di nasehati, sebagai orangtua coba introspeksi pola komunikasi dengan anak selama ini. Anak yang suka membantah sebenarnya bukan karakter dasar anak seperti itu, tapi kondisi itu tercipta dari perlakuan yang diberikan oleh orang dewasa terhadapnya. Perlakuan yang kerap mengabaikan, menghakimi, menyalahkan anak inilah yang memicu anak jadi pembantah, Sebelum disalahkan ia lebih memilih membantah lebih dahulu.
Yang paling penting berilah contoh yang baik sehari-hari di rumah atau bila sesekali sedang jalan-jalan ajarkan lah anak untuk bersedekah, membantu yang kurang mampu agar rasa sosialnya tumbuh. Peduli dan memperhatikan kehidupan di sekelilingnya, betapa beruntung nya dia hidup dalam keluarga yang penuh perhatian dan lebih baik dari anak-anak di sekitarnya. Ini akan membuat anak belajar bersyukur. Pemahaman seperti ini akan memperkaya rasa simpati dan toleransi anak kepada sesamanya.

Agar si kecil tumbuh menjadi anak yang berprilaku baik, ada sejumlah langkah yang disarankan untuk para orangtua.

Beri Contoh
Sebaik-baiknya pelajaran yang paling cepat diserap oleh anak adalah dari orangtua nya sendiri. Berusahalah menjadi orangtua yang mengajarkan hal-hal baik pada baik. Bisa karena biasa, pendapat yang bijak. Biasa melihat maka anak pun menjadi terbiasa.

Bacakan Dongeng
Mendongeng bisa menjadi salah satu sarana untuk belajar menanamkan nilai baik pada anak. Tokoh dalam cerita anak-anak selalu ada sisi jahat dan baik. Biarkan anak memberikan pendapatnya tentang tokoh-tokoh dalam cerita tersebut.

Nonton TV bersama
Dampingi dan jadikan acara menonton Tv bersama untuk ajang diskusi, membahas tayangan acaranya dan beri tahu nilai-nilai yang ada di acara tersebut.

Lihat kehidupan disekitarnya
Memperhatikan kehidupan di sekitarnya, ternyata banyak yang hidupnya kurang beruntung. Ajak lah anak untuk diskusi, berpartisipasi dan peduli terhadap lingkungan seperti itu.

Rewards
Bila anak melakukan hal yang baik berilah ia pujian, beri ia semangat untuk dapat melakukan nya lagi di lain waktu.

Kamis, 21 Juli 2011

Attitude

why Attitude is everything?????
       Pernahkah Anda mendengar ungkapan, “Sikap adalah Segalanya”? Sementara sikap mungkin tidak benar-benar menjadi “segala sesuatu”, itu adalah faktor penentu tunggal paling penting dari keberhasilan dalam banyak situasi.


Mengubah sikap Anda bisa mendapatkan Anda di sana lebih cepat, tetapi juga bisa mendapatkan Anda ada dalam gaya, menikmati naik lebih lengkap. Shortcut ini adalah untuk semua orang, karena bahkan jika Anda memiliki sikap yang baik sudah, selalu bisa lebih baik. Tidak masalah jika Anda memiliki tujuan kecil atau mimpi besar, sebuah gangguan kecil atau masalah besar, menggeser sikap Anda akan membantu, dan itu hanya mungkin secara radikal mengubah situasi Anda.
Orang cenderung menganggap sikap sebagai hanya positif atau negatif. Namun, ada kemungkinan tak terbatas seperti: hangat, ramah, percaya diri, ditentukan, tak terbendung, konyol, menyenangkan, santai, keterlaluan, damai, berpikiran terbuka, penuh kasih, optimis, dan semua rekan-rekan negatif mereka. Anda akhirnya dapat menjadi sangat kreatif dan bereksperimen dengan sikap yang berbeda untuk situasi yang berbeda, yang akan membawa Anda menjadi lebih kuat dan efektif.
Di sini masalahnya. Kita sering berpikir sulit atau tidak mungkin untuk mengubah sikap kita, jadi kita tidak mencoba. Yang benar adalah bahwa itu mudah untuk mengubah sikap Anda, jika Anda tahu caranya.
Lain masalah besar adalah bahwa kita cenderung berpikir sikap kita lahir dari situasi. Kami pikir sikap kita adalah sikap yang benar untuk jalannya. Oleh karena itu, sikap kita pergi teruji dan tidak diragukan lagi. Hampir semua orang bersalah ini, bagaimanapun, sikap kita adalah opsional dan fleksibel. Hal ini dimungkinkan untuk memiliki sikap dalam situasi apapun, dan tidak ada akhir “tepat” sikap untuk situasi tertentu.
Kita juga cenderung menganggap sikap kita sebagai bagian dari identitas kita. Kita berpikir, “Itu hanya cara saya.” Kita cenderung berpikir dari kepribadian kita sebagai hal-hal statis. Bahkan, ketika berhadapan dengan tantangan atau situasi baru, kita membuat split keputusan kedua tentang bagaimana menanggapi, dan apa sikap untuk mengadopsi, didasarkan pada gagasan kita tentang “siapa kita berpikir kita”. Dengan cara ini, kita terus-menerus menciptakan kembali sikap kita, apakah mereka menjadi negatif dan melemahkan atau positif dan self-memberdayakan. Sementara kepribadian kita, dan sikap yang pergi bersama mereka, mungkin tampak agak statis, mereka hanya tampak demikian karena kita terus membuat pilihan yang sama (sering secara tidak sadar) lagi dan lagi, saat ke saat. Yang benar adalah bahwa Anda dapat mengubah “siapa Anda sedang”, dan Anda dapat mengubah sikap Anda, setiap saat.
Cara Pergeseran Sikap Anda
Niat: Putuskan apa yang sikap yang ingin Anda miliki, kemudian mengatur niat Anda untuk mengadopsi sikap itu. Seringkali, ini adalah semua yang diperlukan untuk menggeser sikap Anda secara dramatis.
Pola istirahat Anda: Jika Anda mendapatkan diri Anda dengan sikap buruk, dapat berguna untuk melakukan sesuatu yang radikal dan mengejutkan untuk mematahkan pola Anda: melompat-lompat, menari dalam lingkaran, es air yang buruk di atas kepala Anda, nyanyikan di puncak paru-paru, peluit sebuah lagu konyol, memasang musik yang hebat, atau apa pun untuk mematahkan pola Anda. Kemudian menciptakan sikap segar.
Model Peran: Cari orang-orang yang mendapatkan jenis hasil yang Anda ingin mendapatkan. Perhatikan secara seksama untuk melihat apa sikap yang mereka miliki dan bagaimana mereka mengungkapkan sikap itu. Menyalinnya.
Surround Diri Dengan Orang Positif: Sikap yang menular. Siapa yang Anda mengelilingi diri Anda dengan dan menghabiskan waktu dengan cara yang mungkin mempengaruhi sikap Anda lebih dari Anda menyadarinya. Cukup kata.
Ajukan Pertanyaan Lebih Baik: Kami terus bertanya pada diri sendiri pertanyaan. Sebagian besar waktu ini bukan proses yang sangat sadar. Misalnya, sesuatu yang buruk terjadi dan kita bertanya, “Mengapa saya?” Pikiran kita mulai menemukan jawaban untuk pertanyaan itu, secara efektif membangun sebuah kasus untuk mengapa hal-hal buruk terjadi kepada kita, yang mengarah ke sikap buruk, menyebabkan lebih banyak hal buruk terjadi. Buatlah daftar pertanyaan yang paling memberdayakan Anda bisa memikirkan, dan meminta mereka sebagai gantinya.